Kamis, 09 Juli 2015

Last Report: Warm And Cozy



                Drama ini berakhir dengan hangat (dan belum begitu nyaman, karena memang ending sebuah drama Korea tak pernah membuatku nyaman). Our True Pairing (OTP) mengakhiri kisahnya dengan cuddling di depan Resto merencanakan pernikahan mereka. Akhirnya setelah kurang lebih 8 episode bertanya-tanya kenapa mereka ngga jadian aja? Hong-Sis dan Tim Produksi memutuskan untuk mengakhiri kebodohan para OTP dan menjadikan mereka sebagai pasangan kekasih di episode 15.  Drama ini benar-benar membuat kepalaku nyeri karena seringnya aku menjambak rambut saking kesalnya pada OTP yang saling tarik ulur (Milgodangigi/Mildang). Ditambah lagi Noble Idiocy yang ngga masuk akal, dimana membuat Geon Woo (Yeo Yoon Seok) harus keluar Jeju selama satu tahun.
                Point menyebalkan lainnya adalah adanya karakter Mook Ji Won. Duh, ngga ngerti setan apa yang merasuki Hong-Sis sehingga menciptakan karakter vilain yang cocoknya ada di Makjang drama. Mok JI Won di sini digambarkan tokoh yang stagnan dengan sifat licik, penghasit dan mata duitan. Nih karakter antagonis Khas sinetron Indonesia banget nih, jangan jangan Hong-Sis hobi nonton sinetron Indonesia lagi dan terinspirasi menciptakan karakter MJW.

                Aku heran pada diriku sendiri yang masih mau mengikuti drama ini hingga akhir. Seperti ulasan yang sudah ku buat di postingan sebelumnya, aku masih ngga menemukan daya tarik apa yang mampu membuat ku bertahan hingga akhir drama ini. Setelah melakukan ritual ‘renungan dalam kloset’ mungkin beberapa faktor dibawah tanpa sadar membuatku untuk tetap melihat bagaimana akhir kisah Goon Wo si Lazy Grasshoper dan Jeong Jo si Diliggent Ant.
Metafora
Aku sangat suka dengan penggunaan metafora dalam sebuah karya, baik itu lisan maupun tulisan.  Karena menurut pendapat pribadi ku penggunaan metafora menambah kesan dramatis sekaligus putis dalam sebuah karya. Dan masih menurutku juga, Metafora dapat memperdalam arti sebuah keadaan/kata dari makna yang sesungguhnya. Orang yang berpengaruh dalam kesukaan ku memperhatikan (dan menggunakan)  metafora  adalah Bang Raditya Dika. Di dalam bukunya banyak sekali meta-jokes yang ngga Cuma lucu tapi juga bikin kita mikir.
Hong Sister Writer-nim memang terkenal dengan penggunaan Metafornya (hampir seluruh karya yang mereka buat menggunakan metafor karya atau legenda). Misalnya saja Metafora Wolf and Lamb dari Manga On The Stormy Night yang menjadi dasar dari drama Master’s Sun, kisah Putri Duyung di drama My Girlfriend is a Gumiho, dan Grasshoper and Ant di serial W&C kali ini. Selain menggunakan metafora untuk menjelaskan hubungan para tokoh utamanya, Hong Sis juga menggunakan banyak metofora untuk filler drama itu sendiri. Hal ini membuat para pembaca di Dramabeans mulai geram karena memang bisa dikatakan setiap episode ada metafora baru yang membuat kita bosan menebak-nebak arti dari metafora itu (Ini benar benar sulit bagi internasional viewer yang ngga begitu paham tentang kebudayaan dan bahasa populer di Korea Selatan, That’s why I really glad and thankfull to Subbing Team so we can understand what they’re said).
Jeju-Island
                Hmmm, siapa sih yang ngga terkagum-kagum pada keindahan Pulau Bali-nya Korea Selatan (Tuh kan pakai metafora lagi!)?  Drama ini berlatar belakang di pulau Jeju, tapi obyek panorama Jeju nya hanya beberapa saja yang ditampilkan. Seperti misalnya pemandangan gardu pandang (entah itu apa namanya, aku ngga begitu memperhatikan nama asli tempatnya) yang sudah aku lihat di Heartstring(a.k.a You’ve Fallen to Me); Sunrise dari gardu pandang itu (itupun hanya hasil Computer Graphic/CG yang kelihatan awkward banget, aku malah sempat berpikir jangan jangan art directornya drama ini adalah kru sinetron Indonesia yang ada naga terbangnya itu); Pemandangan dari atas Hotelnya Junsu JYJ (yang jelas-jelas iklan banget biar hotelnya doi laku) dan bahkan taman bunga yang dijadikan foto poster diatas tidak ditampilkan lagi di drama. Kenapa aku menonton drama ini sampai habis karena aku pengin banget melihat pemandangan Jeju selain yang sudah kusebutkan di atas. Eh, ternyata aku harus kecewa karena mereka( (Tim Produksi) hanya menghabiskan detik-detik terakhir dengan latar belakang di Restoran “Warm and Cozy” saja. Yah, mungkin mereka keterbatasan waktu karena memang proses Shooting drama ini bisa dibilang striping.
Light Ploting Drama
                Drama Kill Me Heal Me dan Falling For Innocence membuat otak, tenaga, dan Jiwa ku lelah karena ploting misteri yang mereka angkat. Sehingga aku pengin melihat drama yang plotnya sederhana saja. Maka aku  mengikuti drama ini sampai akhir (daripada aku harus berkutat dengan Skripshit). Tapi ternyata drama ini tidak cocok untukku yang sudah menonton drama selama kurang lebih 6 tahun. Karena dengan pengalaman selama itu, aku sekarang mulai menganalisis gimana jalannya cerita, logis ngga karakternya, gimana settingnya, gimana pengambilan gambarnya, dsb. Dengan begitu aku tidak bisa menikmati drama ini. Analoginya gini, Misalkan seorang anak yang kemampuan matematisnya bagus sehingga kelas satu SD dia sudah bisa perkalian dan pembagian tapi dia disuruh mengerjakan soal tambah dan kurang. Jadi drama ini sama kaya soal tambah dan kurang bagi anak tadi terlalu mudah dan tidak ada tantangan. Ok aku memang mencari plot yang sederhana tapi drama ini mengambil/menggunakan kembali plot-plot yang sudah ada sebelumnya. Ini mah bukan sederhana namanya Plotnya sama dengan drama lain.

                Huh, sepertinya beberapa point di atas bukanlah alasan logis kenapa aku masih bertahan melihat drama ini sampai akhir. Entahlah, semuanya ada saja point negatif yang malah sepertinya membuatku membuang-buang waktu 16 jam untuk melihat drama ini. Haha, mencoba berpikir positif sepertinya ada beberapa hal yang ku pelajari dari drama ini diantaranya
  1.  Boleh menggunakan metafora asal jangan banyak banyak, karena pembaca akan bosan dan bingung jika semua yang kutulis adalah metafora
  2. Jangan menonton Dramanya Hong-Sis kalau mereka ngga bikin drama  fantasi. Drama ini dan Big membuktikan kalau ranah Hong-Sis itu di fantasi, mereka kurang begitu bagus di ranah Real-Sory.

Tidak ada komentar: